Ini merupakan cerita dan mungkin bisa disebut sebagai “Curhat” yang disampaikan oleh salah satu masyarakat ketika saya berkesempatan untuk monitoring pelaksanaan kegiatan KKN di desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja, Garut. Saat itu, adik-adik mahasiswa memiliki agenda kunjungan lapangan ke masyarakat sebagai bagian dari survey potensi ekonomi dan sosial masyarakat. Dalam kunjungan pertama, kami berkesempatan bisa bertemu dengan salah satu pemilik peternakan sapi di daerah tersebut, yang bisa digolongkan peternak skala sedang (karena belum tahu kategorinya) karena bisa mencapai puluhan sapi yang beliau miliki.
Kami sempat berbincang mengenai kondisi yang beliau alami dalam proses membangun bisnis terenak sapi. Dalam pembicangan tersebut, topik pembicaraan lebih mengerucut kepada masalah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang pada beberapa bulan kebelakang sempat viral karena kasusnya meningkat terus. Apalagi, kasus tersebut muncul bersamaan dengan perayaan Idul Adha dimana umat Islam melaksanakan ibadah Qurban. Hal ini tentu memberikan dampak tidak baik dan berpengaruh pada penjualan/ penghasilan bagi peternak khususnya peternak sapi. Karena dalam waktu singkat, penyakit tersebut dapat menjangkit hewan ternak (sapi) dalam waktu yang singkat.
Pemilik peternakan menyampaikan kepada kami, kira-kira apa masalah yang bisa diselesaikan oleh kami sebagai perwakilan Akademisi. Karena PMK telah ada sejak lama, dan negara kita tidak kekurangan lembaga pendidikan dan penelitian dari kampus-kampus ternama seperti Institu Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (UNPAD). Pun beberapa kali peternakan teresebut juga sempat dikunjungi mahasiswa yang melakukan penelitian, tetapi tidak ada tindak lanjut bagaimana proses pengembangan dan pemeliharaan ternak sapi yang baik serta bisa terhindar (ada semacam vaksin) dari penyakit PMK tersebut.